Atraksi Kota Purwokerto

Tidak ada komentar

Purwokerto, kota yang menawarkan kehangatan dan ketentraman. Memiliki atraksi kota yang wajib dikunjungi baik bagi pengunjung ataupun masyarakat Purwokerto. Purwokerto, dimana jumlah swalayan modern masih sedikit, masih menempatkan alun-alun dan taman sebagai wisata hiburan bagi masyarakat lokal.


1. Alun-alun Kota Purwokerto



When modernity collides with traditional. Alun-alun tepat berada berseberangan dengan Rita Supermall, salah satu dari 2 Mall di Purwokerto. Saya pertama kali datang ke alun-alun setelah secara acak melakukan night driving yang merupakan kegiatan favorit saya di lingkar luar Kota. Menyusuri Jalan Gerilya, Veteran kemudian kembali melalui Jalan Sudirman. Keadaan saat saya datang tidak begitu ramai, tetapi pendatang dan penjual begitu antusias. Entah pada hari itu bukan weekend atau memang penduduk Purwokerto sudah tidak terlalu menggantung keriaan kepada alun alun. Semarak lampu Rita Supermall beserta pengunjungnya yang hilir mudik terlihat jelas dari alun-alun.


Bentuk Alun-alun Purwokerto sudah tertata estetikanya. Tepat di pinggir jalann ada air mancur dan lampu bertuliskan "PURWOKERTO", yang memancarkan warna yang berubah-ubah. Ornamen dilengkapi dengan hiasan lampu berbentuk bunga. Tak dinyana. didepan lampu huruf merupakan posisi favorit melakukan swafoto, baik penduduk lokal ataupun turis. Alun-alun yang terpakai hanya setengah lapangan saja. Ada tukang gerobak mecin malam (baca: sosis bakar, cilok dan teman-temannya, jasuke, wedang ronde, dll). Ada juga yang jual makanan agak berat seperti mi ayam dan batagor. Mainan anak-anak yang disuguhkan juga variatif. Mulai dari odong-odong, mainan pasir, pancingan ikan mainan, mandi bola, bola-bolaan karet sampai aneka ragam remote control


Saya datang lagi untuk kedua kalinya bersama keluarga. Waktu maghrib datang saat mendekati alun-alun. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat dulu di mesjid seberangnya. Byurrrr,, tiba-tiba hujan deras datang saat kami sholat. Karena mustahil keluar, akhirnya kami menunggu sesaat di dalam mesjid. Setelah hujan agak reda, kami keluar mesjid. Orang-orang yang berteduh mulai berpulangan. Pedagang-pedagang asongan mulai membuka tirai terpal yang menutupi jualannya agar tidak kehujanan. Tampak beberapa pengunjung ikut mengarungi kearifan malam alun-alun yang dilengkapi dengan becak yang terparkir sana-sini.

2. Taman Andhang Pangrenan



Merupakan Taman kota terbesar di Purwokerto dan salah satu wujud ikon kota. Sebagai taman kota terbesar di Purwokerto, dengan mudah kita menemukan lokasinya di Google Maps. Terletak di selatan kota, tepatnya di simpang Jalan Gerilya dan Jalan Wahid Hasyim. Ternyata, taman ini umurnya masih sangat muda, baru diresmikan sekitar 2 tahun yang lalu. Ukuran tamannya luas sekali dengan banyak instalasi hewan, alat mainan anak (ayunan, perosotan, putaran), jogging track, dan kursi taman. Well-decorated and well-maitained. Memiliki desain lapangan dan panggung besar yang dikelilingi dengan jogging track. Tampaknya wahana untuk dangdutan malam-malam ya 😀. Tiket masuknya cukup murah, orang dewasa hanya membayar Rp 2500 dan anak-anak Rp 1500. Hasan yang berusia dibawah 3 tahun pada waktu itu tidak ditarik bayaran. Saya mengunjungi taman ini 2-3 kali karena menyenangkan.


3. Taman Balai Kemambang



Merupakan satu-satunya taman kota yang terletak di utara Purwokerto. Adanya taman ini cukup memfasilitasi penduduk Purwokerto yang ingin ke taman tanpa harus terlalu jauh ke Andhang Pangrenan (well,, jauh di kota kecil seberapa sih 😜). Balai Kemambang, balai artinya tempat berkumpul dan kemambang artinya terapung karena ada bagian yang seolah-olah terapung ditengah kolam. Bersih dan terawat, ada kolam ikan yang besar banget, ikannya juga super banyak. Hasan jadi bahagia sekali. Banyak terdapat kursi taman di sepanjang jogging track.


Ada semacam menara 3 lantai di bagian belakang. Kalau kita naiki, bisa liat pemandangan dari atas. Keliatan juga dibelakang taman ini ada hamparan sawah nan luas. Baguuuus. Ada juga arena bermain anak-anak layaknya taman kota lainnya. Ukurannya memang tidak seluas Andhang Pangrenan dan tidak ada yang menjual makanan meski ada warung-warung kosong di dalamnya.


Oh ya, harga tiket sama ya. Dewasa Rp 2500 dan anak-anak 1500 saja.

4. Taman Satria



Merupakan taman terdekat dari kosan kami, hanya cukup berjalan kaki saja! Dibanding kedua taman lainnya, Taman Satria lebih mirip RTH saja. Ukuran yang kecil sederhana, lajur jalan beserta arena permainan anak juga sudah tampak karat dimana-mana. Kadang-kadang terlihat rombongan anak TK yang mengunjungi taman ini. Kadang juga terlihat orang-orang yang menyendiri, Karena taman ini sangat lebat dengan dedaunan dan pohon, pastikan gunakan lotion anti nyamuk karena nyamuknya banyak sekali. Tentu saja masuk kesini gratis.


5. Museum Bank BRI



Satu-satunya museum di Purwokerto (am I right?).

Purwokerto adalah kota kelahiran Bank Rakyat Indonesia. Mari kita sedikit berbicara tentang sejarah asal muasal BRI. Dimulai dari seorang guru yang mengadakan acara mewah pada saat itu. Para penduduk kemudian curiga kenapa sang guru bisa padahal profesinya hanyalah guru yang gajinya tidak seberapa. Kemudian, Raden Aria Wiryaatmadja menyelidiki keadaan ini. Ternyata sang guru berhutang dengan jumlah dan bunga yang sangat besar kepada lintah darat. Mengetahui hal ini, Raden Wiryaatmadja memberikan pinjaman dengan bunga ringan untuk membantu melunasi utang. Permasalahan lintah darat ini ternyata tidak hanya dialami oleh sang guru, tetapi juga banyak masyarakat sekitar. Raden Wiryaatmadja mengelola dengan menggunakan dana mesjid (haduh!). Asisten karesidenan mengetahui hal ini dan kemudian melarangnya. Ia mengatakan bahwa dana mesjid ya hanya untuk mesjid saja. Akhirnya dikelola sebuah lembaga bernama Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Indlandsche Hoofden, atau Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto.


Meminjam uang di jaman dulu tidaklah semudah sekarang. Prosesnya cukup rumit. Masyarakat mengajukan keinginan bantuan pinjaman lewat Kades. Kades menyampaikan ke Bank. Diterima atau ditolak akan disampaikan Bank ke Kades untuk kemudian diteruskan kepada masyarakat.

Zaman berganti menjadi zaman penjajahan Jepang. Namanya pun berubah menjadi Syomin Ginko. Paska kemerdekaan berubah lagi menjadi Bank Koperasi Tani dan Nelayan karena mayoritas peminjam berasal dari kedua golongan tersebut. Pada akhirnya nama tersebut berubah menjadi Bank Rakyat Indonesia seperti yang kita ketahui.

Museum BRI terletak di persimpangan Jalan Sudirman dan Jalan Bank. Merupakan bentuk Rumah dengan arsitektur Belanda. Dikelilingi taman dengan rumput yang mulai ranggas dengan patung kepala didepan bangunan. Saat sampai sana, saya terkaget-kaget dengan keadaan yang sangat ramai. Saya pikir pengunjung museum memang ramai. Ternyata bangunan kecil ini juga termasuk loket Bank BRI. Museum sendiri sepi, hanya ada beberapa anak SD bersama orang tuanya serta satu pengunjung bapak-bapak yang tertegun membaca sejarah museum. Museum ini tersusun rapi. Isinya mulai dari instalasi minatur BRI, diorama sejarah BRI dan display uang dari masa ke masa.


6. Bioskop Rajawali



Awalnya, saya mengira bahwa CGV yang berada di Rita Supermall merupakan satu-satunya bioskop di Purwokerto. Ternyata masih ada satu lagi, dan jauh lebih dahulu berdiri dibandingkan CGV. Namanya Rajawali Cinema. Berlokasi di pinggir Jalan S. Parman. Parkiran yang luas seolah-olah mengiringi gedung bioskop dengan arsitektur luar 70-80an Tulisan "Rajawali Cinema" pun khas sekali. Tetapi, ternyata di dalam gedung bioskop tidak setua itu. Memang masih terasa unsur 80-an terutama lantainya, tapi kelengkapan yang lain sudah modern. Loket karcis menggunakan komputer layaknya bioskop jaman sekarang. Berhubung saya tidak menonton, jadi saya tidak mengetahui seperti apa interior studio. Oh ya, film-film yang diputar di Rajawali Cinema terkini loh!


Tidak ada komentar